Kamis, 28 Februari 2013

"Kurikulum Baru Bukan Bertujuan Cetak Generasi Tukang"


"Kurikulum Baru Bukan Bertujuan Cetak Generasi Tukang"
Share:
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANMenteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh



JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menegaskan bahwa Kurikulum 2013 tidak akan berdampak pada terciptanya generasi tukang. Kurikulum baru justru disusun untuk menjawab masalah gersangnya budaya dewasa ini.

"Kurikulum 2013 justru didesain untuk mengatasi kegersangan budaya. Akibat kegersangan budaya ini makin banyak yang perilakunya tak berbudaya," kata Nuh di Jakarta, Kamis (28/2/2013).

"Jauh dari hanya mencetak tukang saja. Tapi bukan berarti anak-anak yang unggul dalam technical skilltidak dibutuhkan," ungkap Nuh.

Beberapa waktu lalu, desain kurikulum 2013 dikritik oleh seorang pakar pendidikan dari Institut Teknologi Sepuluh November yang menyebutkan kurikulum baru hanya akan mencetak generasi tukang. Nuh sebagai pimpinan lembaga yang menggagas kurikulum baru membantahnya.

Nuh menduga, asumsi tersebut muncul karena salah persepsi pada landasan desain kurikulum baru ini. Pasalnya, selama ini kementerian selalu menyebutkan bahwa kurikulum baru ini berlandaskan pada pengembangan skill.

"Padahal tidak hanya pengembangan skill. Ada tiga yang tidak boleh lepas. Pengembangan skill, attitude dan knowledge. Itu harus bersamaan," ungkapnya.

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu mengatakan bahwa desain kurikulum ini tidak hanya menekankan pada aspek ilmiah saja. Justru kurikulum baru ini akan lebih kaya dengan nilai-nilai seni budaya dan moral.

Salah satu langkah yang diambil adalah menambah durasi mata pelajaran seni budaya dan memberi ruang bagi daerah untuk memasukkan mata pelajaran yang sesuai dengan tradisi kedaerahannya dalam muatan lokal.


Senin, 01 Oktober 2012

PENDIDIKAN YANG BERVARIASI UNTUK MERANGSANG MINAT ANAK


Pelatihan Guru Harus Bervariasi dan Sentuh Pendidikan Karakter

09/27/2012 (All day)
Jakarta --- Meningkatkan kualitas pembelajaran memerlukan perubahan, dan perubahan memerlukan pembiasaan. Pembiasaan tersebut bisa dimulai dari proses pendidikan atau pelatihan guru. Karena itu diperlukan proses pelatihan yang dapat “memaksa” guru secara bawah sadar untuk melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang inovatif menuju ke pembelajaran yang bermakna. Prinsip pelatihan guru yang baik di antaranya adalah fokus pada praktik, dan tujuan pelatihan yang jelas (apa yang ingin dicapai berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi).
Demikian yang terungkap di hari ke-3 Seminar Nasional bertema “Cakrawala Pembelajaran Berkualitas di Indonesia”, yang berlangsung di Hotel Menara Peninsula, Jakarta. Seminar yang diikuti peserta dari berbagai institusi pendidikan dan berbagai wilayah di tanah air ini mengupas berbagai subtema untuk melakukan inovasi did alma proses pembelajaran.
Abdur Rahman As’ari, salah satu pembicara utama dalam seminar tersebut mengatakan, selain fokus pada praktik dan memiliki tujuan yang jelas, pelatihan guru juga harus bisa mendorong analisis krisis (dengan berkaca dan praktik), serta memiliki dukungan dan pemahaman para manajer (kepala sekolah, pengawas, komite sekolah). Salah satunya hal yang diharapkan bisa tercapai dalam pelatihan adalah meningkatnya kemampuan guru untuk merancang tugas yang variatif dan menantang untuk peserta didik.
“Seorang guru harus bisa memberi tugas yang menantang dan usefull bagi siswanya. Kalau hanya berupa tugas rutin, siswa bisa boring. Jika tugas bisa disesuaikan dengan minat anak, ketertarikannya, apa yang dicita-citakannya, anak akan tekun. Kemampuan guru untuk memberikan assignment yang bervariasi  itu lah yang diperlukan,” ujar dosen yang juga menjadi konsultan USAID itu, saat diwawancarai usai presentasi makalahnya, (27/9).
As’ari juga mengatakan, jika tugas yang diberikan guru terlalu mudah, dan anak-anak tidak perlu mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mengerjakannya, mereka akan memiliki waktu yang lebih longgar. “Sehingga dengan sendirinya, sekali kena gesekan dari luar, bisa menimbulkan rasa lebih bangga, muncul keinginan eksistensi diri dan aktualisasi,” katanya mengomentari kasus tawuran pelajar yang terjadi pada minggu ini.
Ia mengakui, masalah tawuran sebagai bagian dari masalah pendidikan karakter bukan hal yang sederhana. “Di dalam proses pembelajaran sebenarnya bisa sekalian membangun karakter,” jelasnya. Karena itu, As’ari mengatakan, pelatihan-pelatihan untuk guru diharapkan tidak hanya sebatas membuat kurikulum atau RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah), tetapi juga bisa melatih kepekaan seorang guru dalam proses pembelajaran untuk melihat karakter apa yang bisa dikembangkan dari siswanya secara positif. Menurutnya, pelatihan tersebut bisa diselenggarakan oleh pemerintah (Kemdikbud), maupun pihak swasta melalui kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility). (DM)

Sabtu, 29 September 2012

Nilai IQ Pengaruhi Kebahagiaan


Kompas.com - Tinggi rendahnya nilai kecerdasan (IQ) seseorang ternyata berkaitan erat dengan kebahagiaan. Mereka yang IQ-nya rendah cenderung kurang bahagia dibanding dengan orang yang lebih cerdas.

Sebuah penelitian yang melibatkan 6.870 orang menunjukkan, orang yang IQ-nya rendah biasanya memiliki penghasilan dan juga kesehatan mental yang rendah. Hal tersebut jelas berpengaruh pada ketidakbahagiaan.

Para peneliti dari Universitas College London melakukan analisa data dari sebuah survei mengenai psikiatri orang dewasa di Inggris. Salah satu pertanyaan survei itu misalnya, "Jika semua hal diperhitungkan, bagaimana Anda menilai hidup Anda saat ini, sangat bahagia, cukup bahagia, atau tidak terlalu bahagia?". Nilai IQ partisipan juga diukur.

Hampir separuh jawaban yang menyebut "sangat bahagia" paling banyak ditemukan pada orang yang memiliki IQ antara 120-129. Sedangkan proporsi jawaban "tidak terlalu bahagia" paling banyak (12 persen) ditemukan pada orang yang IQ-nya 70-79. 

"Orang yang IQ-nya rendah sering merasa hidupnya tidak bahagia," kata Dr.Angela Hassiotis, salah satu peneliti. 

Ia menjelaskan perlunya intervensi pada anak-anak yang berasal dari keluarga ekonomi lemah untuk memiliki pandangan positif terhadap hidup sehingga mereka memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik.

Selasa, 25 September 2012

Koneksi Otak Lambat? Bisa Diatasi dengan Cara Ini...

September 2012

Koneksi Otak Lambat? Bisa Diatasi dengan Cara Ini...

Tidak hanya tubuh kita yang dilatih untuk kesehatan tetapi otak juga harus dilatih agar memiliki daya ingat yang kuat supaya dapat berpikir dengan cepat dan meningkatkan kecerdasan. Demikian zaman yang telah berkembang menjadi zaman teknologi. Orang semakin dimudahkan dengan akses yang dapat melancarkan kegiatannya sehingga orang malas berpikir dan hanya mau mendapatkan hasilnya secara instan. Akibatnya orang kurang cerdas sehingga dalam hal mendapatkan suatu informasi, akan berpikir lambat. Agar terhindar dari hal tersebut ada beberapa cara yang dapat di ikuti.

1. Untuk pelajaran hitungan, usahakan hindari penggunaan kalkulator
Dalam mengerjakan suatu soal hitungan yang mudah usahakan untuk tidak menggunakan kalkulator. Untuk alternatif anda dapat menggunakan jari atau sempoa dalam berhitung. Hal ini dapat meningkatkan kinerja otak untuk berpikir secara maksimal ketimbang menggunakan kalkulator.

2. Sering membaca
Tanamkan hobi membaca anda sejak dini sehingga dapat mempelajari istilah-istilah baru dalam bahasa yang sebelumnya anda tidak pernah mendengarnya dengan membaca artikel, novel, berita dan buku pengetahuan. Teknik ini dapat mempertajam memori sehingga memperbanyak "perpustakaan" kosakata dalam otak anda.

3. Cobalah mengerjakan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan
Meski kadang membuat orang bingung, namun dengan mengerjakan pekerjaan sederhana secara bersamaan dalam satu waktu dapat mempertahankan otak tetap encer dan fokus sehingga orang dengan sendirinya akan aktif.

4. Biasakan gunakan peta daripada GPS
Jika anda bepergian ketempat yang jauh, cobalah menggunakan peta. Memang GPS memudahkan kita untuk menemukan lokasi yang kita tuju namun orang akan malas berpikir tetapi dengan menggunakan peta, orang akan membuka pikirannya dan berimajinasi ke lokasi yang anda di tuju.

5. Suka seni
Dengan adanya seni, orang akan berpikir secara kreatif dengan menggunakan kemampuan motoriknya dan berpikir secara sehat karena seni merupakan sumber latihan untuk membantu memori otak yang mengekspresikan dirinya melalui imajinasi. Untuk menciptakan seni dalam diri, cobalah untuk mengambar, bermain musik sesuai dengan talenta yang dimiliki. Dengan itu secara tidak langsung otak anda akan bekerja sehingga membuat meningkatkan kecerdasan anda dalam berpikir.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Sabtu, 22 September 2012

Mengapa Jokowi-Basuki Menang


Ini Alasan Mengapa Jokowi-Basuki Menang

Tribunnews.com - Kamis, 20 September 2012 20:53 WIB
Share this
Share
Email
Print
  + Text 
Ini Alasan Mengapa Jokowi-Basuki Menang
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Joko Widodo berbicara di depan pendukungnya di rumah pemenangan, Jakarta Pusat, Kamis (20/9/2012). 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil quick count Pemilukada DKI Jakarta, yang menempatkan Jokowi-Basuki sebagai pemenang dengan 53,68 persen suara, mengalahkan Foke-Nara yang hanya meraih 46,32 persen suara.
Peneliti LSI Setia Darma menjelaskan mengapa Jokowi-Basuki menang. Berdasarkan survei yang dilakukan pada September, ada beberapa faktor yang menyebabkan Jokowi-Basuki meraih suara yang lebih besar ketimbang Foke-Nara.
Pertama, berdasarkan survei yang telah dilakukan, sosok Jokowi-Basuki lebih disukai publik Jakarta.
"Sebesar 65,2 persen, Jokowi-Ahok lebih disukai publik Jakrta yang baru mengenalnya. Sedangkan Foke hanya 60,9 persen," ujar Setia di Kantor LSI, Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Kamis (20/9/2012).
Kedua, lanjutnya, kinerja Foke dinilai kurang memuaskan oleh publik Jakarta.
"Sekitar 36,2 persen publik yang menilai kinerja Foke tidak memuaskan," jelasnya.
Ketiga, adanya blunder isu SARA yang kurang disukai masyarakat.
"Mayoritas publik, 51,6 persen tidak suka isu SARA. Artinya, publik DKI pro terhadap keberagaman," imbuh Setia.
Keempat, mayoritas masyarakat Jakarta ingin adanya perubahan.
"Masyarakat merasa jemu dengan permasalahan Jakarta, dan 87,7 persen ingin perubahan," ungkapnya.
Kelima, adanya limpahan dukungan suara dari putaran pertama penyisihan.
"Pada hari-hari terakhir, terjadi migrasi suara yang masif dari pendukung HNW-Didik dan Alex-Nono ke Foke-Nara. Sedangkan pendukung Faisal-Biem dan Hendarji-Riza cenderung ke Jokowi-Ahok," terangnya.
Keenam, golput Jokowi lebih sedikit. 
"Pendukung Foke banyak yang golput, sedangkan pendukung Jokowi lebih maksimal," kata Setia.
Terakhir, sosialisasi yang dilakukan Jokowi-Basuki lebih efektif memengaruhi pemilih, karena banyak dilakukan lewat sosial media.
"DKI ini spesial, karena sebagian besar masyarakat memiliki akses kepada media. Publik DKI akan lebih mudah mengakses apa dan siapa calon yang akan dipilihnya, berbeda dengan publik di daerah yang cenderung sulit mendapatkan akses terhadap media," bebernya.
Jokowi-Basuki lebih banyak menggunakan sosial media (Twitter, Facebook, youtube, dan lain-lain) sebanyak 55,20 persen, sedangkan Foke-Nara hanya 34,10 persen. (*)

Kamis, 30 Agustus 2012

PENDIDIKAN IMPIAN MASA DEPAN

 PENDIDIKAN IMPIAN MASA DEPAN

Sepertinya sumberdaya manusia ( human resource ) Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti; Singapura, Malaysia, Thailand dan Pilipina. Hm, pernyataan ini bukan lontaran kata klise semata. Ada alasan yang mendukung kenyataan ini, paling tidak  didasarkan atas Indek Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2011. Seperti diketahui, berdasarkan penelitian UNDP ( 2011), Indonesia berada di urutan ke 124 dari 187 negara di dunia yang diteliti. Sementara itu Singapura diurutan (26), Malaysia (61), Thailand (103) dan Pilipina (112). Penelitian badan dunia UNDP tersebut didasarkan atas kriteria pendidikan, kesehatan dan pendapatan.
Suatu kondisi yang menjadi tantangan bagi sumberdaya manusia Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar (241 juta  jiwa) atau  urutan ke 4 di dunia pada rahun 2011. Namun penyebaran penduduk tidak merata dan mayoritas terkonsentrasi di pulau Jawa (58 %). Yang mengejutkan adalah  usia produktif yang tinggi (70%) namun kualitas produktivitasnya relatif rendah. Dalam sektor pendidikan apalagi, pemerataan pelayanan pendidikan belum terpenuhi akibat keterbatasan yang dimiliki negeri ini.
Sumberdaya manusia berkaitan erat dengan pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu kriteria dalam penentuan indek pembangunan manusia, pantas menjadi pusat perhatian kita. Pendidikan di negeri ini secara global belum sesuai impian kita. Di tingkat lembaga pendidikan sekolah, misalnya,  masih mengedepankan persoalan hasil belajar. Pendidikan  belum berorientasi kepada bagaimana proses belajar yang dijalankan. Indikasinya adalah kecenderungan menjadikan nilai evaluasi murni (NEM)  menjadi primadona. Padahal NEM hanyalah salah satu tolok ukur kualitas pendidikan dan belum mencerminkan kualitas pendidikan secara komprehensif.  Maka pantaslah, anak yang dianggap berkemampuan tinggi karena NEM-nya tinggi tidak sanggup berbuat apa-apa ketika terjun ke tengah masyarakat. Mereka pintar di otak namun masih lemah dalam keterampilan dan keahlian dalam hidup (lifes-klill)
Lalu pendidikan yang bagaimana yang kita impikan di masa depan? Pendidikan impian masa depan adalah pendidikan yang mengutamakan proses pembelajaran. Proses yangt berkualitas akan mengantarkan pendidikan kepada hasil yang berkualitas. Guru yang bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan pembelajaran ini diharapkan tidak hanya sibuk memikirkan dan mengurus kenaikan pangkat, mengurus administrasi pencairan tunjangan sertifikasi. Sebaliknya, guru yang diimpikan adalah guru yang banyak menyediakan waktunya untuk memikirkan peserta didik dan proses pembelajaran di kelas. Guru profesional yang diimpikan tidak hanya guru yang pintar mendisain perangkat pembelajaran namun berkompeten melaksanakan disainnya tersebut di ruang kelas. Disain pembelajaran yang telah dibuat guru merupakan pertanggung jawaban ilmiah dari lencana profesional yang disandangnya. Tidak lucu kalau guru profesional  kelabakan dalam melaksanakan hasil disain pembelajarannya tersebut di ruang kelas.
Kepala sekolah  impian masa depan  adalah seorang figur pimpinan memiliki simpati dan empati yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya. Pimpinan yang menguasai persoalan pendidikan yang sedang dihadapi,  tauladan bagi guru, bukan kepala sekolah yang  banyak duduk di ruang kepala sekolah, atau sering mondar-mandir meninggalkan sekolah dengan alasan urusan dinas luar. Atau hanya latah mengucapkan; kata bapak kepala dinas, kata bapak bupati/walikota, untuk menakut-nakuti guru.
Peserta didik impian masa depan adalah perseta didik yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan berkepribadian yang baik. Bukan peserta didik yang suka tawuran, suka menyusahkan orang tua dan masyarakat sekitarnya. Sebaliknya suka berdiskusi, menyenangkan orang tua dan lingkungan sekitarnya. Sebab, sepuluh atau duapuluh tahun berikutnya mereka ini akan menjadi pemimpin yang menggantikan pimpinan yang sekarang ini.
Pendidikan impian masa depan adalah pendidikan yang independen, terlepas dari kepentingan politik sesaat. Pendidikan tidak dijadikan sebagai jargon politik melainkan dijadikan sebagai sugestif dan semangat untuk memajukan pendidikan di negeri tercinta ini.
Pendidikan impian masa depan adalah pendidikan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai. Proses belajar sulit terlaksana dengan baik tanpa ditunjang sarana dan prasarana belajar yang memadai. Tidak terdengar lagi jawaban, dana kurang mencukupi, anggaran belum ada, dan segala macam alasan lainnya.
Memang, mewujudkan impian-impian pendidikan masa depan tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tidaklah cukup dalam waktu yang singkat melainkian butuh proses, begitu kata orang bijak. Allahuiallambissowaab…*

@swara pendidikan

Jumat, 10 Agustus 2012

MUTU PENDIDIKAN TERBAIK DIDUNIA


Mengapa mutu pendidikan Finlandia terbaik di dunia?

Peta Finlandia
Sistem pendidikan Finlandia adalah yang terbaik di dunia. Rekor prestasi belajar siswa yang terbaik di negara-negara OECD dan di dunia dalam membaca, matematika, dan sains dicapai para siswa Finlandia dalam tes PISA.  Amerika Serikat dan Eropa, seluruh dunia gempar.
Untuk tiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberi maternity package yang berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri. Alasannya, PAUD adalah tahap belajar pertama dan paling kritis dalam belajar sepanjang hayat. Sebesar 90% pertumbuhan otak terjadi pada usia balita dan 85% brain paths berkembang sebelum anak masuk SD (7 tahun).
Kegemaran membaca aktif didorong. Finlandia menerbitkan lebih banyak buku anak-anak daripada negeri mana pun di dunia. Guru diberi kebebasan melaksanakan kurikulum pemerintah, bebas memilih metode dan buku teks. Stasiun TV menyiarkan program berbahasa asing dengan teks terjemahan dalam bahasa Finish sehingga anak-anak bahkan membaca waktu nonton TV.
Pendidikan di sekolah berlangsung rileks dan masuk kelas siswa harus melepas sepatu, hanya berkaus kaki. Belajar aktif diterapkan guru yang semuanya tamatan S2 dan dipilih dari the best tenlulusan universitas. Orang merasa lebih terhormat jadi guru daripada jadi dokter atau insinyur. Frekuensi tes benar-benar dikurangi. Ujian nasional hanyalah Matriculation Examination  untuk masuk PT. Sekolah swasta mendapatkan dana sama besar dengan dana untuk sekolah negeri.
Sebesar 25% kenaikan pendapatan nasional Finlandia disumbangkan oleh meningkatnya mutu pendidikan. Dari negeri agraris yang tak terkenal kini Finlandia maju di bidang teknologi. Produk HP Nokia misalnya merajai pasar HP dunia. Itulah keajaiban pendidikan Finlandia.
Kemajuan sebuah bangsa lebih ditentukan oleh karakter penduduknya dan karakter penduduk dibina lewat pendidikan yang bermutu dan relevan.
Bagaimana Indonesia?
Ada yang berpendapat,  keunggulan mutu pendidikan Finlandia itu tidak mengherankan karena negeri ini amat kecil dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa,  penduduknya homogen,  dan negaranya sudah eksis sekian ratus tahun. Sebaliknya,  penduduk Indonesia lebih dari 220 juta jiwa, amat majemuk terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.  Indonesia baru merdeka 66 tahun.
Pendapat senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh dan pemerhati pendidikan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang,  dan negara-negara lain dibandingkan dengan negaranya. Yang paling malu AS karena unit cost anggaran pendidikannya jauh melebihi Finlandia tapi siswanya mencapai ranking 17 dan 24 dalam tes PISA, sedangkan siswa Shanghai China ranking 1, Finlandia 2, dan Korea Selatan 3. Soal siswa di Shanghai China juara masih diragukan karena belum menggambarkan keadaan mutu seluruh pendidikan China. Kalau Finlandia sebagai negara kecil bisa juara mengapa negara kecil yang sudah established seperti Islandia, Norwegia, New Zealand tak bisa?
Akhirnya semua mengakui bahwa sistem pendidikan Finlandia yang terbaik di dunia karena kebijakan-kebijakan pendidikan konsisten selama lebih dari 40 tahun walau partai yang memerintah berganti. Secara umum kebijakan-kebijakan pendidikan China dan Korea Selatan (dan Singapura) juga konsisten dan hasilnya terlihat sekarang.
Kebijakan-kebijakan pendidikan Indonesia cenderung tentatif, suka coba-coba, dan sering berganti.
Lalu bagaimana dengan kebijakan pendidikan Indonesia jika dibandingkan dengan Finlandia?
1. Kita masih asyik memborbardir siswa dengan sekian banyak tes (ulangan harian, ulangan blok, ulangan mid-semester, ulangan umum / kenaikan kelas, dan ujian nasional). Finlandia menganut kebijakan mengurangi tes jadi sesedikit mungkin. Tak ada ujian nasional sampai siswa yang menyelesaikan pendidikan SMA mengikuti matriculation examination untuk masuk PT.
2. Kita masih getol menerapkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sehingga siswa yang gagal tes harus mengikuti tes remidial dan masih ada tinggal kelas. Sebaliknya, Finlandia menganut kebijakanautomatic promotion, naik kelas otomatis. Guru siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua naik kelas.
3. Kita masih berpikir bahwa PR amat penting untuk membiasakan siswa disiplin belajar. Bahkan, di sekolah tertentu, tiada hari tanpa PR. Sebaliknya, di Finlandia PR masih bisa ditolerir tapi maksimum hanya menyita waktu setengah jam waktu anak belajar di rumah.
4. Kita masih pusing meningkatkan kualifikasi guru SD agar setara dengan S1, di Finlandia semua guru harus tamatan S2.
5. Kita masih menerima calon guru yang lulus dengan nilai pas-pasan, sedangkan di Finlandia the best ten lulusan universitas yang diterima menjadi guru.
6. Kita masih sibuk memaksa guru membuat silabus dan RPP mengikuti model dari Pusat dan memaksa guru memakai buku pelajaran BSE (Buku Sekolah Elektronik), di Finlandia para guru bebas memilih bentuk atau model persiapan mengajar dan memilih metode serta buku pelajaran sesuai dengan pertimbangannya.
7. Hanya segelintir guru di tanah air yang membuat proses belajar-mengajar itu menyenangkan (learning is fun) melalui penerapan belajar aktif. Terbanyak guru masih getol mengajar satu arah dengan metode ceramah amat dominan. Sedangkan, di Finlandia terbanyak guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui implementasi belajar aktif dan para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Motivasi intrinsik siswa adalah kata kunci keberhasilan dalam belajar.
Apakah benda ini melayang, terapung atau tenggelam?
8. Di tanah air kita terseret arus mengkotak-kotakkan siswa dalam kelas reguler dan kelas anak pintar, kelas anak lamban berbahasa Indonesia dan kelas bilingual (bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar) dan membuat pengkastaan sekolah (sekolah berstandar nasional, sekolah nasional plus, sekolah berstandar internasional, sekolah negeri yang dianakemaskan dan sekolah swasta yang dianaktirikan). Sebaliknya di Finlandia, tidak ada pengkotakan siswa dan pengkastaan sekolah. Sekolah swasta mendapatkan besaran dana yang sama dengan sekolah negeri.
9. Di Indonesia bahasa Inggris wajib diajarkan sejak kelas I SMP, di Finlandia bahasa Inggris mulai diajarkan dari kelas III SD. Alasan kebijakan ini adalah memenangkan persaingan ekonomi di Eropa, membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan, mengembangkan wawasan menghargai keanekaragaman kultural.
10. Di Indonesia siswa-siswa kita ke sekolah sebanyak 220 hari dalam setahun (termasuk negara yang menerapkan jumlah hari belajar efektif dalam setahun yang tertinggi di dunia). Sebaliknya, siswa-siswa Finlandia ke sekolah hanya sebanyak 190 hari dalam satu tahun. Jumlah hari liburnya 30 hari lebih banyak daripada di Indonesia. Kita masih menganut pandangan bahwa semakin sering ke sekolah anak makin pintar, mereka malah berpandangan semakin banyak hari libur anak makin pintar.