Sabtu, 29 September 2012

Nilai IQ Pengaruhi Kebahagiaan


Kompas.com - Tinggi rendahnya nilai kecerdasan (IQ) seseorang ternyata berkaitan erat dengan kebahagiaan. Mereka yang IQ-nya rendah cenderung kurang bahagia dibanding dengan orang yang lebih cerdas.

Sebuah penelitian yang melibatkan 6.870 orang menunjukkan, orang yang IQ-nya rendah biasanya memiliki penghasilan dan juga kesehatan mental yang rendah. Hal tersebut jelas berpengaruh pada ketidakbahagiaan.

Para peneliti dari Universitas College London melakukan analisa data dari sebuah survei mengenai psikiatri orang dewasa di Inggris. Salah satu pertanyaan survei itu misalnya, "Jika semua hal diperhitungkan, bagaimana Anda menilai hidup Anda saat ini, sangat bahagia, cukup bahagia, atau tidak terlalu bahagia?". Nilai IQ partisipan juga diukur.

Hampir separuh jawaban yang menyebut "sangat bahagia" paling banyak ditemukan pada orang yang memiliki IQ antara 120-129. Sedangkan proporsi jawaban "tidak terlalu bahagia" paling banyak (12 persen) ditemukan pada orang yang IQ-nya 70-79. 

"Orang yang IQ-nya rendah sering merasa hidupnya tidak bahagia," kata Dr.Angela Hassiotis, salah satu peneliti. 

Ia menjelaskan perlunya intervensi pada anak-anak yang berasal dari keluarga ekonomi lemah untuk memiliki pandangan positif terhadap hidup sehingga mereka memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik.

Selasa, 25 September 2012

Koneksi Otak Lambat? Bisa Diatasi dengan Cara Ini...

September 2012

Koneksi Otak Lambat? Bisa Diatasi dengan Cara Ini...

Tidak hanya tubuh kita yang dilatih untuk kesehatan tetapi otak juga harus dilatih agar memiliki daya ingat yang kuat supaya dapat berpikir dengan cepat dan meningkatkan kecerdasan. Demikian zaman yang telah berkembang menjadi zaman teknologi. Orang semakin dimudahkan dengan akses yang dapat melancarkan kegiatannya sehingga orang malas berpikir dan hanya mau mendapatkan hasilnya secara instan. Akibatnya orang kurang cerdas sehingga dalam hal mendapatkan suatu informasi, akan berpikir lambat. Agar terhindar dari hal tersebut ada beberapa cara yang dapat di ikuti.

1. Untuk pelajaran hitungan, usahakan hindari penggunaan kalkulator
Dalam mengerjakan suatu soal hitungan yang mudah usahakan untuk tidak menggunakan kalkulator. Untuk alternatif anda dapat menggunakan jari atau sempoa dalam berhitung. Hal ini dapat meningkatkan kinerja otak untuk berpikir secara maksimal ketimbang menggunakan kalkulator.

2. Sering membaca
Tanamkan hobi membaca anda sejak dini sehingga dapat mempelajari istilah-istilah baru dalam bahasa yang sebelumnya anda tidak pernah mendengarnya dengan membaca artikel, novel, berita dan buku pengetahuan. Teknik ini dapat mempertajam memori sehingga memperbanyak "perpustakaan" kosakata dalam otak anda.

3. Cobalah mengerjakan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan
Meski kadang membuat orang bingung, namun dengan mengerjakan pekerjaan sederhana secara bersamaan dalam satu waktu dapat mempertahankan otak tetap encer dan fokus sehingga orang dengan sendirinya akan aktif.

4. Biasakan gunakan peta daripada GPS
Jika anda bepergian ketempat yang jauh, cobalah menggunakan peta. Memang GPS memudahkan kita untuk menemukan lokasi yang kita tuju namun orang akan malas berpikir tetapi dengan menggunakan peta, orang akan membuka pikirannya dan berimajinasi ke lokasi yang anda di tuju.

5. Suka seni
Dengan adanya seni, orang akan berpikir secara kreatif dengan menggunakan kemampuan motoriknya dan berpikir secara sehat karena seni merupakan sumber latihan untuk membantu memori otak yang mengekspresikan dirinya melalui imajinasi. Untuk menciptakan seni dalam diri, cobalah untuk mengambar, bermain musik sesuai dengan talenta yang dimiliki. Dengan itu secara tidak langsung otak anda akan bekerja sehingga membuat meningkatkan kecerdasan anda dalam berpikir.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Sabtu, 22 September 2012

Mengapa Jokowi-Basuki Menang


Ini Alasan Mengapa Jokowi-Basuki Menang

Tribunnews.com - Kamis, 20 September 2012 20:53 WIB
Share this
Share
Email
Print
  + Text 
Ini Alasan Mengapa Jokowi-Basuki Menang
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Joko Widodo berbicara di depan pendukungnya di rumah pemenangan, Jakarta Pusat, Kamis (20/9/2012). 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil quick count Pemilukada DKI Jakarta, yang menempatkan Jokowi-Basuki sebagai pemenang dengan 53,68 persen suara, mengalahkan Foke-Nara yang hanya meraih 46,32 persen suara.
Peneliti LSI Setia Darma menjelaskan mengapa Jokowi-Basuki menang. Berdasarkan survei yang dilakukan pada September, ada beberapa faktor yang menyebabkan Jokowi-Basuki meraih suara yang lebih besar ketimbang Foke-Nara.
Pertama, berdasarkan survei yang telah dilakukan, sosok Jokowi-Basuki lebih disukai publik Jakarta.
"Sebesar 65,2 persen, Jokowi-Ahok lebih disukai publik Jakrta yang baru mengenalnya. Sedangkan Foke hanya 60,9 persen," ujar Setia di Kantor LSI, Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Kamis (20/9/2012).
Kedua, lanjutnya, kinerja Foke dinilai kurang memuaskan oleh publik Jakarta.
"Sekitar 36,2 persen publik yang menilai kinerja Foke tidak memuaskan," jelasnya.
Ketiga, adanya blunder isu SARA yang kurang disukai masyarakat.
"Mayoritas publik, 51,6 persen tidak suka isu SARA. Artinya, publik DKI pro terhadap keberagaman," imbuh Setia.
Keempat, mayoritas masyarakat Jakarta ingin adanya perubahan.
"Masyarakat merasa jemu dengan permasalahan Jakarta, dan 87,7 persen ingin perubahan," ungkapnya.
Kelima, adanya limpahan dukungan suara dari putaran pertama penyisihan.
"Pada hari-hari terakhir, terjadi migrasi suara yang masif dari pendukung HNW-Didik dan Alex-Nono ke Foke-Nara. Sedangkan pendukung Faisal-Biem dan Hendarji-Riza cenderung ke Jokowi-Ahok," terangnya.
Keenam, golput Jokowi lebih sedikit. 
"Pendukung Foke banyak yang golput, sedangkan pendukung Jokowi lebih maksimal," kata Setia.
Terakhir, sosialisasi yang dilakukan Jokowi-Basuki lebih efektif memengaruhi pemilih, karena banyak dilakukan lewat sosial media.
"DKI ini spesial, karena sebagian besar masyarakat memiliki akses kepada media. Publik DKI akan lebih mudah mengakses apa dan siapa calon yang akan dipilihnya, berbeda dengan publik di daerah yang cenderung sulit mendapatkan akses terhadap media," bebernya.
Jokowi-Basuki lebih banyak menggunakan sosial media (Twitter, Facebook, youtube, dan lain-lain) sebanyak 55,20 persen, sedangkan Foke-Nara hanya 34,10 persen. (*)